Selasa, 06 Mei 2008

TAMPILAN KEPRIBADIAN


TAMPILAN KEPRIBADIAN MERUPAKAN     
KOMBINASI 16 HASRAT DASAR

    Mengapa ada orang yang doyan banget bekerja, tapi ada juga yang malas bukan main?
Ada orang yang berani mengambil resiko, tapi ada yang penakut? Menurut Profesor Steven
Reiss, perbedaan ini disebabkan adanya hasrat dasar manusia.
    Reiss, profesor Psikologi dan Psikiatri dari Ohio State University, menghabiskan lima
tahun untuk mengembangkan dan menguji teori baru tentang motivasi manusia. Hasilnya
dipublikasikan dalam bukunya, Who Am I? The 16 Basic Desires That Motivates Our Action
and Define Our Personalities.
    Dari penelitian yang telah dilakukan kepada lebih dari enam ribu jiwa, ditemukan 16
hasrat dasar yang memotivasi hidup manusia. Yaitu, kekuasaan, kemandirian, rasa ingin
tahu, nrimo, keteraturan, hemat, kehormatan, idealisme, kontak sosial, keluarga, status,
dendam, romansa, makan, latihan fisik, dan sifat kalem.
    “Keunikan pribadi-pribadi dihasilkan dari kombinasi dan peringkat ke 16 sifat ini,” jelas
Reiss. Reiss menerangkan, setidaknya hanya dua yang bukan merupakan bawaan genetis,
yaitu idealisme dan nrimo.
    Hasil riset ini sempat jadi kontroversi. Pasalnya, sebelum hasil ini dikemukakan, para
periset biasanya mereduksi perilaku menusia menjadi satu atau dua keinginan dasar,
misalnya kesenangan, penderitaan, dan semangat bertahan hidup. Ternyata, “Kita adalah
individu yang punya lebih banyak sifat dari yang para psikolog bayangkan,” tutur Reiss.
    Reiss memberi contoh sistem pendidikan yang diterapkan hanya untuk murid yang rasa
ingin tahunya besar. Murid dianggap punya keinginan potensial yang sama untuk belajar.
Padahal, faktanya tidak. “Ada murid yang cerdas, tapi tidak tertarik belajar di sekolah,” kata
Reiss. Tapi, sistem pendidikan tidak menampung pribadi seperti itu. “Para pendidik
menganggap anak-anak punya potensi yang sama dalam hal belajar. Ini sebuah
kesalahan,” kritiknya.
    “Kalau seorang anak memiliki rasa ingin tahu yang kurang, itu normal-normal saja,
selama tidak dibawah standar minimum. Orang tua murid seperti ini harus sadar bahwa
anaknya berbeda, dan mendukungnya,” kata Reiss lagi panjang lebar.

Mengapa ‘workaholic’
    Contoh lainnya adalah kaum workaholic. Mereka bekerja lebih keras dari orang
kebanyakan bukan karena bermasalah, tetapi karena mereka punya keinginan kuat untuk
kekuasaan dan status.
    Reiss lantas menjelaskan tentang self hugging, yaitu menganggap apa yang terbaik
buat dirinya otomatis terbaik untuk semua orang. Jadi, tolok ukurnya adalah dirinya sendiri.
Padahal, tiap-tiap pribadi itu unik dan punya tolok ukur, nilai, dan targetnya sendiri. Orang
seperti ini biasanya ingin mengubah orang-orang yang sebenarnya tidak ingin berubah.
Misalnya kaum workaholic, yang sudah merasa senang dengan kondisinya, tidak usah
dipaksa untuk berubah seperti diri kita yang bukan gila kerja. Di sinilah masalah dimulai.
    Penelitian Reiss dibantu oleh Susan Havercamp. Caranya, dengan menanyakan lebih
dari 300 pernyataan dengan jawaban ya atau tidak, kepada obyek penelitian. Misalnya,
pertanyaan “Saya suka belajar keahlian baru” atau “Saya harus menghindari rasa sakit”.
Setelah diuji kepada 2500 orang, periset lantas memakai teknik metematika yang membagi
respons menjadi 15 keinginan dasar. Setelah 3500 orang, barulah keinginan ke-16, rasa
hemat, muncul. Dari penelitian ini, muncullah yang dinamakan Reiss Profiles, yang bisa
menunjukkan kecenderungan profil dan kepribadian seseorang.


Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri,
Engkau mengerti pikiranku dari jauh.
Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring,
segala jalanku Kau maklumi.
Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan,
sesungguhnya, semuanya telah Kau ketahui, ya Tuhan.
Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku,
dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.
Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi,                                                                                            
tidak sanggup aku mencapainya.
Mazmur 139:1-6

"LOST GENERATION" ANCAM INDONESIA


‘LOST GENERATION’ ANCAM INDONESIA

Sekitar lima juta bayi usia di bawah lima tahun (balita) yang menderita kurang gizi di
Indonesia berpotensi mengalami lost generation pada lima belas tahun mendatang.

       “Bila masalah kurang gizi di Indonesia tidak segera ditangani secara tepat,”
kata Kepala Subdirektorat Kewaspadaan Gizi Departemen Kesehatan (Depkes)
Tatang S Fallah, Jumat (28/4/2006) di Jakarta.
       Tatang mengatakan, lima juta bayi yang diprediksi potensial mengalami lost
generation itu sebagian besar lahir pada tahun 2000-an. Jumlah balita yang
mengalami kurang gizi itu kini mencapai sekitar 27,5% dari total balita di Indonesia.
       “Yang dimaksud dengan lost generation adalah terjadinya penurunan kualitas
sumber daya manusia (SDM) dalam satu generasi akibat penurunan kualitas fisik
dan kecerdasan atau intelligence quotient (IQ),” jelasnya.
Tatang mengakui, beberapa tahun lalu Indonesia sempat ditegur Badan Kesehatan
Dunia (WHO). Penyebabnya, karena prevalensi atau kejadian kurang gizi per
wilayah di Indonesia tergolong cukup tinggi atau di atas 20%. “WHO juga menilai
pemerintah Indonesia bersikap tenang-tenang saja,” ungkapnya.
       Menurut Tatang, bila lost generation benar-benar terjadi, bisa dipastikan ke
depan, Indonesia akan kalah dalam persaingan global. Penyebabnya karena
kualitas SDM-nya rendah dibandingkan negara-negara lain.
       Pejabat dari Depkes ini menegaskan, pemerintah telah menargetkan
pengurangan jumlah balita penderita gizi buruk dari 8,5% menjadi 5%. Sementara
itu, pengurangan jumlah balita kurang gizi dari 27,5% menjadi 20% yang akan
dicapai pada tahun 2009.
       “Walau dirasa rendah, target ini saja sudah cukup sulit. Per tahun saja, kita
hanya sanggup menurunkan gizi buruk 0,5%,” ungkapnya.

Daerah lapor
       Tatang mengharapkan, pemerintah daerah (pemda) segera melaporkan setiap
temuan kasus gizi buruk ke pusat. Kasus gizi buruk jangan ditutup-tutupi. Pasalnya,
masih banyak pemda yang kerap menyembunyikan kasus gizi buruk yang ada di
daerahnya. “Padahal, pemda yang menutupi kasus gizi buruk sebenarnya telah
melanggar Undang-Undang tentang Penyebaran Wabah.”
       Menurut Tatang, bila ditemukan 25 kasus gizi buruk di suatu wilayah, daerah
bersangkutan harus mengeluarkan status kejadian luar biasa (KLB). Tujuannya agar
penanganannya bisa dilakukan maksimal. Sedangkan bagi dokter yang menemukan
kasus gizi buruk, ia wajib melapor ke pemda hingga ke pemerintah pusat.
       Sementara itu, menurut antropolog dari Departemen Antropologi Universitas
Indonesia Achmad Fedyani Saifudin, masalah gizi buruk di Indonesia tidak hanya
disebabkan kemiskinan semata, tetapi juga disebabkan aspek sosial dan budaya.
       “Karena ada orang tua yang lebih mementingkan membeli rokok daripada
makan anaknya,” kata Saifudin.
       Ia mencontohkan, kasus gizi buruk dialami 80% balita di Gianyar, Bali.
Ternyata, balita yang mengalami gizi buruk itu bukan berasal dari keluarga yang
miskin.
       Menurut Saifudin, untuk mengatasi masalah kurang gizi dan gizi buruk,
diperlukan pula sebuah pendekatan antropologi. Penanganannya harus pula
disesuaikan dengan kultur, kepercayaan dari daerah masing-masing. “Karena itu, di
negara lain pun telah diterapkan ilmu antropologi nutrisi guna menangani masalah
gizi.”
       Antropologi nutrisi diperlukan karena antropologi nutrisi penyelesaian masalah
gizi mencakup pola makan yang menjadi identitas etnik, kepercayaan, dan ideologi.
Selain itu, antropologi nutrisi itu juga mempelajari perubahan budaya dan
pemahaman masyarakat. Sebaliknya, kata Saifudin, ahli gizi cenderung melihat
makanan hanya sebagai sumber energi dan protein. “Diharapkan dengan
pendekatan budaya, pesan gizi pada masyarakat akan lebih masuk,” ujarnya.


Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai
kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan
bagimu sejak dunia dijadikan.
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu
memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku
tumpangan;
ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu
melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah
kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan
kami memberi Engkau minum?
Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi
Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami
mengunjungi Engkau?
Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang
paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala
sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina
ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.

Matius 25:34-40, 45

Dimana kau Gereja ? .............

Sabtu, 03 Mei 2008

BAGAIMANA ANDA MEMANDANG DIRI ANDA?


BAGAIMANA ANDA MEMANDANG DIRI ANDA?

Citra diri yang positif penting untuk mengangkat rasa percaya diri Anda. Jangan
pernah merasa “betis si anu lebih indah dari saya punya”, atau memimpikan memiliki
postur seperti peragawati terkenal. Kemampuan menghargai diri sendiri sangat penting
untuk gaya hidup yang seimbang dan sehat.
Berikut ini ada sejumlah pertanyaan yang disusun oleh website Betterhealth yang bisa
membantu apakah Anda memiliki citra diri yang sehat. Jawaban yang jujur akan membantu
memecahkan sebagian masalah Anda.

1. Saya tidak suka melihat diri saya sendiri di depan cermin.
a. Tidak pernah
b. Sesekali
c. Seringkali
d. Selalu

2. Ketika berbelanja baju, saya menjadi lebih peka terhadap masalah berat badan, dan
akibatnya berbelanja baju jadi tidak menyenangkan.
a. Tidak pernah
b. Sesekali
c. Seringkali
d. Selalu

3. Saya malu tampil di depan publik.
a. Tidak pernah
b. Sesekali
c. Seringkali
d. Selalu

4. Saya memilih tidak ikut dalam kegiatan olahraga atau latihan bersama karena
penampilan saya.
a. Tidak pernah
b. Sesekali
c. Seringkali
d. Selalu

5. Saya sedikit banyak merasa malu dengan bentuk tubuh saya karena hadirnya lawan
jenis.
a. Tidak pernah
b. Sesekali
c. Seringkali
d. Selalu

6. Menurut saya, bentuk tubuh saya jelek.
a. Tidak pernah
b. Sesekali
c. Seringkali
d. Selalu

7. Saya rasa orang lain pasti berpikir tubuh saya tidak menarik.
a. Tidak pernah
b. Sesekali
c. Seringkali
d. Selalu

8. Saya merasa teman atau keluarga saya mungkin malu bepergian bersama saya.
a. Tidak pernah
b. Sesekali
c. Seringkali
d. Selalu

9. Saya sering tiba-tiba sadar saya sedang membandingkan diri saya dengan orang lain
untuk melihat apakah bobot tubuh mereka lebih berat dari saya.
a. Tidak pernah
b. Sesekali
c. Seringkali
d. Selalu

10. Sulit bagi saya menikmati berbagai kegiatan karena saya sangat sadar pada
penampilan fisik saya.
a. Tidak pernah
b. Sesekali
c. Seringkali
d. Selalu

11. Pikiran saya sering dihantui rasa bersalah karena masalah bobot tubuh saya.
a. Tidak pernah
b. Sesekali
c. Seringkali
d. Selalu

12. Pikiran saya tentang tubuh dan penampilan fisik saya adalah negatif dan mengkritik
diri sendiri.
a. Tidak pernah
b. Sesekali
c. Seringkali
d. Selalu

Bila 60 persen lebih jawaban Anda berupa jawaban b,c atau d, berarti Anda memiliki
citra diri yang kurang atau bahkan tidak positif.
Memelihara citra diri negatif bisa mengganggu kebahagiaan hidup Anda,
menggagalkan keberhasilan menurunkan bobot badan dan tetap bugar, bahkan bisa
mengarah pada depresi dan kelainan psikologis seperti anoreksia atau bulimia.
Salah satu cara terbaik untuk memperbaiki citra diri adalah mengubah penyebutan diri
sendiri yang negatif menjadi pernyataan-pernyataan positif. Misalnya, mengubah
pernyataan seperti, “Tidak ada seorang pun yang bisa segendut saya,” menjadi
pernyataan positif tentang diri Anda, “Banyak orang dengan masalah kegemukan disukai
dan dihargai oleh orang lain. Kecantikan adalah kualitas dari dalam yang datang karena
saya menyayangi diri saya sendiri dan peduli pada orang lain, bukan karena penampilan
fisik saya.”


Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia
kuduskan.
Ibrani 10:14
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau.
Yesaya 43:4a

MEMAHAMI JENIS SEX LAIN


MEMAHAMI JENIS SEX LAIN

PRIA
1. Umumnya cenderung memiliki otot dan rangka tubuh yang lebih kuat dan kasar
(tidak heran bila mereka senang olahraga yang mengandung resiko).
2. Cenderung melakukan kegiatannya di luar rumah, sebagai hasilnya pengalaman
pria akan dunia luar jadi luas dan suka akan petualangan.
3. Lebih tertarik bertindak, berbuat daripada merasa.
Alasan/latar belakang dari suatu perbuatan tidak penting baginya.

WANITA
1. Lebih mengembangkan minat pada hal-hal yang kecil (detil).
2. Pakaian wanita lebih ditekankan pada fungsi untuk menghias dirinya (resikonya
adalah menjadi korban mode).
3. Ia memakai waktu lebih banyak untuk memperhatikan keadaan luar dirinya,
karena dari situ ia mengharapkan kesan dari orang lain.
4. Wanita lebih sadar akan kebutuhan untuk disenangkan, kata-kata pujian,
selamat, penghargaan.
5. Perubahan sikap orang lain, bahkan yang kecil-kecil sering diperhatikannya,
diterka-terka latar belakangnya, dan sering pula mengganggu ketentramannya.
6. Wanita lebih sadar akan segi-segi yang tersembunyi dari tingkah laku seseorang,
dan lebih banyak memikirkan tentang itu.

APA YANG MEMBUAT SESEORANG ITU MENARIK BAGI SEX LAIN?

Bersyukurlah, bahwa pemilikan jenis sex lain, lebih banyak ditandai oleh penilaian
dan selera yang sifatnya pribadi dan khas.
Setiap orang sanggup membuat dirinya menarik perhatian orang lain, asal cukup
memiliki kematangan pribadi dan understanding.

PRIA YANG MENARIK?

1. KEPRIAANNYA (masculinity).
Yaitu kesanggupan berpikir, berperasaan dan berbuat sebagai laki-laki.
2. KESANGGUPAN MENGATASI KEADAAN.
Dengan kesanggupan ini seorang pria merupakan penguasa dalam saat-saat
yang sulit, berbahaya dimana dibutuhkan keberanian, ketegasan dan kecekatan
untuk bertindak mengatasi keadaan.
Dia tahu saat-saat mana dia harus tampil dan memimpin karena dibutuhkan.
Dirumuskan dalam 3 karakter: keberanian, kebebasan dan semangat melindungi.
3. RAMAH, SIMPATIK, BISA MENGERTI.
Kelaki-lakian bukanlah kekerasan dan keliaran yang membabi buta.
Kelaki-lakian bertambah kaya dan mengagumkan bila diiringi dengan
keramahan, kelembutan dan pengertian sebagai watak ksatria dan pelindung.
4. MEMAHAMI PANDANGAN DAN KECENDERUNGAN KAUM WANITA.
5. SANGGUP BERGAUL DENGAN ENAK.
Artinya: percaya diri, bisa membawa diri dengan baik.
Wanita umumnya kurang senang pria yang malu-malu, kikuk, cepat
tersipu-sipu atau bicara kurang jelas karena terlalu nervous.
6. Wanita senang pada pria yang berusaha betul-betul untuk bisa menjadi teman
yang baik.

WANITA MANA YANG MENARIK?

1. KEWANITAAN (feminity).
Gadis yang menerima sepenuhnya, senang dan menikmati nasib sebagai wanita.
2. PRIA SENANG PADA WANITA YANG SANGGUP MEMBUAT MEREKA
MERASA PENTING.
Wanita yang tidak menutup kesempatan bagi pria untuk menunjukkan bahwa
mereka adalah benar-benar laki-laki yang bertanggung jawab.
3. YANG MEMAHAMI KAUM PRIA.
Pria akan menghargai wanita yang maklum akan tingkah laku laki-laki yang
mungkin tidak bisa dimengertinya.
Yang tidak mengecilkan arti pria melalui kata-kata maupun perbuatan. Yang
mengakui bahwa ada bidang-bidang tertentu dalam mana pria lebih unggul.
4. PRIA SUKA WANITA YANG PUNYA KECAKAPAN TERTENTU UNTUK
MEMAINKAN PERANNYA SEBAGAI PARTNER PRIA.
Wanita yang cukup berpengetahuan dan luas pandangan sehingga tidak
membosankan sebagai teman bicara, bersifat keibuan, lembut hati.
5. KEAYUAN BUKAN MERUPAKAN KEHARUSAN, meskipun harus diakui
bahwa karunia itu bisa membantu.
Yang penting adalah pandangan yang menarik sebagai hasil dari usaha dan
perhatian yang cukup terhadap keadaan luar yang tampak.