Jumat, 29 Oktober 2010

Saat Menolong Orang lain


Saat Menolong Orang lain
Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu (Mat 6:3)
Sebuah keluarga muda baru saja pindah rumah ke sebuah kota yang baru. Mereka sangat senang dapat tinggal di lingkungan yang baik dan nyaman. Pada hari Minggu mereka mencari tempat ibadah dan akhirnya bergabung pada sebuah gereja di dekat rumah mereka. Seusai ibadah keluarga ini pun segera berkenalan dengan anggota jemaat lain, keluarga A yang terpandang dan kaya di antara jemaat lokal tersebut.
Dalam perbincangan tersebut keluarga muda tersebut menanyakan tempat penjualan perabotan rumahtangga murah. Sebab mereka belum memiliki perabotan di rumah. Keluarga A yang baru mereka kenal itu pun menawarkan kebaikan mereka,”Bapak dan Ibu tidak perlu membeli perabotan, kami kebetulan baru saja membeli perabotan baru dan tengah bingung hendak menaruh dimana perabotan kami yang lama. Bapak dan Ibu ambil saja ke rumah, tidak perlu dibeli ambil saja, kita khan saudara seiman harus saling menolong.” Keluarga muda ini hendak membayar perabotan itu, tetapi keluarga A tersebut meyakinkan mereka bahwa ini merupakan tindakan kasih antar saudara seiman. Akhirnya keluarga muda ini mengambil perabotan itu dengan sukacita dan mereka sangat bersyukur akan kebaikan keluarga A.
Tibalah hari Minggu, ibadah mereka jalani dengan khidmat dan penuh ucapan syukur. Saat ibadah usai dan mereka beramahtamah dengan jemaat yang lain. Tiba-tiba seorang ibu bertanya,”Wah baru dapat berkat perabotan dari keluarga A, ya?”Seorang Ibu yang lain juga menimpali,”Keluarga A memang sangat murah hati, baru kenal sudah langsung memberi perabotan bekas mereka.” Ibu A bergabung dengan mereka,”Nah, ini keluarga muda yang ikke bantu…kasian mereka baru pindah dan engga ada perabotan.” Hati keluarga muda ini menjadi tidak karuan akibat peristiwa itu.
Pelajaran yang dapat kita timba hari ini, bila kita mau menolong orang lain. Tolonglah ia dengan tulus hati dan jangan mengharapkan pujian. Biarlah Tuhan saja yang menilai dan memberkati kita kembali.
Doa: Tuhan, tolong kami agar saat kami mnolong sesama, kami melakukannya dengan tulus. Amien.
Firman Tuhan: Matius 6:1-4

Kamis, 28 Oktober 2010

SAAT BERJALAN DI ATAS AIR


SAAT BERJALAN DI ATAS AIR
“…ketika dirasanya tiupan angin takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak,”Tuhan tolonglah aku.” (Mat 14:30)
Seringkali saya mendengar khotbah mengenai Petrus kala ia berjalan di atas air. Bagaimana dengan heroiknya ia berjalan di atas Danau Galilea tetapi saat angin bertiup menerpa wajahnya dan melihat gelombang yang datang, kecemasan mulai meliputinya. Ia ketakutan dan mulai memikirkan hal yang negatif. Saat ia tidak memfokuskan pandangannya pada Tuhan Yesus yang memanggilnya ia pun mulai tenggelam. Puji Tuhan, Yesus tak membiarkannya tenggelam, saat ia berseru disaat itu pula Tuhan mengulurkan tanganNya. Tuhan Yesus lalu berkata,”Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”
Dulu setelah saya mendengar kisah tersebut, seringkali saya menghakimi Petrus dan mengatakan ia kurang iman sampai ditegur oleh Tuhan. Hingga suatu hari saya diperhadapkan dalam masalah kehidupan yang berat. Kala usia makin tua tetapi keadaan ekonomi keluarga kami tak kunjung membaik. Saya mencoba untuk tetap setia melayani kaum marginal di perkotaan meski pun tidak ada banyak dukungan. Saya pun belajar untuk “berjalan di atas air”, coba tetap fokus dengan panggilan pelayanan yang Tuhan percayakan. Meski kadang himpitan ekonomi membuat saya takut, kadang saya pun tenggelam dalam kecemasan. Di saat seperti itulah saya berseru padaNya dan IA lalu mengangkat saya kembali. Saya tersadar lebih mudah menghakimi Petrus daripada menyadari bagaimana rasanya bila kita berada dalam posisi itu.
Hari ini kita dapat belajar untuk tetap fokus dengan memperkatakan firman Tuhan. Kita perlu bukan saja untuk membaca Alkitab tetapi juga perlu untuk menghafalkan dan merenungkannya. Menjadikan firman itu bagian kehidupan kita sehari-hari. Hingga kita fokus dan percaya sepenuhnya pada DIA.
Doa: Tuhan tolong kami yang sering kurang percaya. Amien
Firman Tuhan: Yosua 1:5-9

Rabu, 27 Oktober 2010

JANGAN BERMAIN API


JANGAN BERMAIN API
Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati (1 Ptr 5:5b)
Suatu hari seorang gadis yang baru saja putus cinta datang ke tempat pelayanan kami. Ia menjelaskan maksud dan tujuannya agar dapat dilayani konseling untuk pemulihan batinnya. Rekan saya yang senior mengatakan bahwa ia yang akan menangani kasus tersebut. Kami saling memandang, lalu menyatakan,”Pak, bukankah kebijakan pelayanan ini, kita harus melayani sesama jenis kecuali dalam kasus “khusus”?” Ia memandang kami dengan sinis,”Apa kalian tidak percaya pada saya? Tuhan ada serta saya, tak mungkin saya jatuh dalam dosa. Saya ini sudah berumahtangga belasan tahun dan memiliki tiga orang anak. Tak mungkin saya mengkhianati keluarga dan Tuhan.”
Pada akhirnya rekan senior kami melayani gadis tersebut, meski pada akhirnya ditegur oleh pimpinan pelayanan, ia tetap berkeras melayani gadis ini diam-diam di luar lingkup pelayanan kami. Hingga suatu hari kami mendapatkan pengaduan dari sang istri bahwa suaminya telah berselingkuh dengan konseli tersebut. Sangat disayangkan, rekan senior kami merupakan panutan kami konselor-konselor yang muda. Hanya akibat merasa diri kuat, mampu dan sudah berpengalaman, rekan kami tercinta jatuh dalam pencobaan. Saya segera teringat pepatah, jangan main api nanti terbakar.
Hal ini dapat terjadi pada siapa saja, termasuk diri saya sendiri. Kita semua harus waspada sebab saat kita lengah maka Iblis akan mengambil kesempatan untuk menjatuhkan kita dalam dosa. Jangan kita menjadi sombong dan merasa diri hebat karena memiliki pengetahuan akan kebenaran (Alkitab). Jadilah teladan melalui hidup kita dan saling melayani dan menasehati menjelang hari akhir ini.
Doa: Tuhan tolong jagai hati kami agar kami tidak menjadi sombong. Amien.
Firman Tuhan: 1 Petrus 5:5-11

Kamis, 21 Oktober 2010

Rise up in My Name!


Rise up in My Name!

My child I have taken you on into my family the day you committed your life to me. You carry my name in your name. My name carries so much authority and power and so you have that available to you as well.

Yes, you have authority in my name. You are me in this earth. You are my child, my agent. You have forgotten the inheritance you have in me and have not realized the authority you stand in.

You have gotten boggled down by the attacks of the enemy and have let Him win many times. You have backed down and have said ah, I must just simply endure this because I have a great calling.

To put it clearly, this is a lie! You do not have to take anything from the enemy. In fact, you shouldn't even need to battle with him. I have given you the power to tread on serpents and on scorpions and over all the power of the enemy and you shall not be harmed in doing it. That is what I have given you. This is who you are and what you have in me.

So my child, shake off those dirty clothes of defeat. Shake them off. Rise up now, take that sword that I have given you and rise up. Stand in my name and in my power and take your stand.

Tell the enemy where he belongs and rise up onto your throne of glory and blessing in me. I have called you to be seated in heavenly places with me. I have called you to rule and reign with me.

When you speak my name, the enemy trembles. When you stand in the blood that I have shed for you, he flees. But you haven't stepped into that and have just accepted his lies and have just accepted defeat. My child rise up.

This is not where I have called you to be. I have not called you to be a little nothing just trying to get by in life and trying to win the battle. No, you have already won the battle because you are my child. You have already defeated the enemy because I died for you and you are in me now.

My child just wake up and take your stand. I love you so dearly and I have given you so much. You are called to live a life of blessing. You are called to be a king and a queen. You are called to flow in abundance in every area of your life.

So be bold my child. Take up the sword I have given you, take up the armor I have for you and stand tall. Stand in my name. Go out there and represent me. You are my child, you are my warrior.

You fight for me and my name is above every other name. At my name every knee has to bow and ever tongue has to confess that I am Lord. So rise up! No longer accept the things the enemy is throwing at you and take your stand in me.

I love you so dearly my child and I desire only the best for you. I want to raise you up and I want to give you only the best. But I need you to take your stand in me.

When you rise up and step into all that I have given you, I will be able to move my hand mightily once more in your life, and you will see all the puzzle pieces coming together. You will see solutions to problems that seemed to have been going on forever. You will find resolve in conflicts that have weighed you down. Just rise up now my child! I love you, says the Lord!

MENGAPA BISA TERJADI?


MENGAPA BISA TERJADI?
Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong….(1 Tim 3:6a)
Anita seorang anak Tuhan yang luar biasa bersemangat, setelah ia lahir baru. Ia sangat aktif dalam berbagai kegiatan gereja dan terlibat di dalamnya. Ia memberi diri untuk melayani secara sukarela. Hampir setiap minggu ia membawa jiwa baru ke gereja. Tentu saja semua orang senang, terutama para hamba Tuhan yang ada. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk memanggil Anita dan mengangkat dia menjadi salah satu staf gereja.
Beberapa saat setelah pengangkatan tersebut, sikap Anita berubah. Anita yang hangat dan berapi-api untuk Tuhan tiba-tiba berubah. Ia menjadi sulit didekati dan meminta jemaat untuk “menghormati” dirinya bahkan ia menuntut pengakuan dari rekan sekerjanya. Ia merasa tanpa dirinya gereja tersebut tidak akan mengalami pertumbuhan, sebab dirinyalah yang dipakai Tuhan untuk “membawa jiwa baru”. Ia merasa dirinya sangat istimewa melebihi yang lain.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Sang pendeta berdoa dan lalu menemukan peringatan Rasul Paulus terhadap anak rohaninya, Timotius, agar tidak terburu-buru mengangkat seorang petobat baru menduduki suatu jabatan. Sang pendeta menyadari seharusnya ia memuridkan terlebih dulu Anita hingga karakternya diubahkan firman Tuhan.
Apa yang dapat kita pelajari dari pengalaman tersebut? Dalam hidup kita yang terpenting bukan pelayanan di gereja, tetapi melayani Tuhan dengan hidup taat sesuai firmanNya. Bila karakter kita diubahkan Tuhan, kita akan makin segambar dengan diriNya maka pelayanan yang sejati itu akan mengalir melalui diri kita. Hingga kita akan jadi berkat dimana saja, baik di gereja maupun masyarakat.
Doa: Tuhan, tolong saya hari ini untuk terus bertumbuh dalam Engkau hingga setiap orang dapat melihat pribadiMu dalam diri saya. Amien.
Firman Tuhan: 1 Timotius 3:1-7

Senin, 18 Oktober 2010

Rise Up and Look Ahead!


Rise Up and Look Ahead!

For just as the sunset consists of many colors, your life consists of many areas. Areas of blessing and areas of lack, areas of strength and areas of weakness.

Many times you wonder why you're not moving forward, why things are not happening, but child have you considered that perhaps you have lost your momentum? That perhaps you have grown weary and let go?

It is in consistency that lies your answer, not in a quick fix, and as you press on and allow my spirit to work in and through you, the change you so desire will come.

As you allow me to change and shape you, new doors will open up before you, but you have become weary child, you have let your expectations go. You have let the battle to survival rob you of your joy. Now is not the time to lie down in defeat, but the time to rise up in victory once again.

Fix your eyes on the future. Do you see the horizon up ahead? See how the sun rises up and brings a palette of color that brightens the sky. As you allow yourself to dream again, to become positive, My Spirit will rise up within you and give you what you need.

So rise up now child, be like that sun bringing a radiance of color to a grey world and soon you will once again move forward with purpose and power, says the Lord.

Sabtu, 09 Oktober 2010

JAGA HATIMU


JAGA HATIMU
Aku hendak menyamai Yang Mahatinggi! (Yes 14:14)
Herman merupakan seorang lulusan sebuah STT yang baru saja diangkat menjadi pemimpin pujian di sebuah gereja lokal. Ia seorang yang sungguh-sungguh mengiring Tuhan sebelum pelayanan ia selalu mengambil waktu untuk berdoa dan puasa agar Tuhan benar-benar bekerja di tengah umatNya. Walhasil setiap kali ia dipercayakan memimpin pujian, jemaat dapat merasakan jamahan dan lawatan Tuhan. Setiap kali ibadah usai maka ada saja jemaat yang datang dan memberikan pujian bahkan ada beberapa gadis yang menjadikan ia idola baru.
Pertama-tama, ia dapat meresponi setiap pujian dari jemaat dan menanggapi para gadis di gereja dengan sikap yang benar. Sayangnya, ketika ia merasa dirinya “lebih istimewa” dari yang lain, ia tidak menjaga hatinya. Kesombongan memenuhi dirinya dan menyatakan bahwa “tanpa” dirinya maka ibadah dalam gereja akan “kering”. Ia mengklaim dirinya paling mengerti kehendak Tuhan dalam gereja. Ia mulai mempengaruhi jemaat bahwa sebenarnya Tuhan telah memilih dirinya untuk menggantikan pendeta setempat.
Bapak Pendeta sangat mengasihi Herman, beberapa kali ia ditegur tetapi ia berkeras hingga akhirnya dengan berat hati Bapak Pendeta harus mendisiplinnya dan melepaskannya dari jabatan tersebut.
Kita semua sebagai anak Tuhan harus berhati-hati terhadap yang namanya kesombongan. Kita semua perlu mendapatkan pujian, kita perlu saling memuji satu dengan yang lain sebab itu meningkatkan kepercayaan diri kita. Tetapi kita harus tetap menjaga hati kita agar jangan jadi sombong. Iblis dapat hancurkan kita saat kita tidak menjaga hati.
Doa: Tuhan tolong kami agar tidak takabur saat kami mulai berhasil. Jaga diri kami agar tetap ada dalam jalanMU. Amien
Firman Tuhan: Yakobus 4: 5-10