Rabu, 23 September 2015

Sukacita Saat Mengenang Kembali


Dear DAVE BROOS,

Selamat ulang tahun, dari kami semua di Our Daily Bread Ministries! Kami ikut bersyukur dan bersukacita bersama Anda. Kiranya Allah melimpahkan segala kasih karunia-Nya kepada Anda, sehingga Anda senantiasa berkecukupan dalam segala sesuatu, bahkan berkelebihan dalam pelbagai kebajikan.
 
Salah satu cara terbaik untuk merayakan ulang tahun adalah dengan merenungkan kembali berkat-berkat Tuhan yang melimpah di sepanjang hidup kita. Karena itulah, kami telah memilih satu renungan khusus dari Santapan Rohani yang kami harap akan menguatkan Anda dalam menjalani hidup yang melimpah dengan ucapan syukur.

Hui Neon Khan
Asisten Wakil Presiden
Pelayanan Operasional
Wilayah Asia Tenggara



Sukacita Saat Mengenang Kembali

Baca:
Mazmur 103:1-14

Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! —Mazmur 103:2

Seorang teman lama menggambarkan hari-hari menjelang ulang tahunnya yang ke-90 sebagai “suatu waktu . . . untuk melakukan sedikit perenungan, memandang kembali masa lalu, dan menggunakan jam demi jam untuk mengalami apa yang kusebut sebagai ‘Anugerah dari Kenangan’. Amatlah mudah melupakan segala jalan yang telah ditunjukkan Tuhan! ‘Janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!’” (Mzm. 103:2).
 
Itulah kebiasaan dari seorang teman yang telah saya kenal dan kagumi selama lebih dari 50 tahun. Alih-alih mengingat hal-hal yang mengecewakan, suratnya penuh dengan ucapan syukur dan pujian kepada Allah.
 
Pertama, ia mengingat berkat-berkat Tuhan yang bersifat sementara—kesehatannya yang baik, kegirangan bersama istri dan anak-anaknya, sukacita dan kesuksesan dalam pekerjaan, persahabatan yang memperkaya hidupnya, dan kesempatan yang dimilikinya untuk melayani Allah. Ia menganggap semuanya itu sebagai kasih karunia—tidak satu pun layak diterimanya, tetapi semuanya diterima dengan penuh syukur.
 
Kemudian, ia mengingat berkat-berkat rohani dari Allah—pengaruh dari orangtua Kristen dan pengalamannya menerima pengampunan Allah ketika ia menerima Kristus di masa remajanya. Ia menutup suratnya dengan menuliskan tentang dukungan yang telah diterimanya dari beragam gereja, sekolah, dan saudara seiman yang saling memperhatikan dan mendoakan.
 
Inilah sikap yang patut kita terapkan secara teratur—sukacita saat mengenang kembali. “Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” (ay.1). —DCM
 
Dia tahu yang terbaik! Kehendak-Nya bagiku
Lebih baik dari rancanganku. 
Bukankah segala pemberian yang baik dan sempurna 
Berasal dari tangan Bapaku? —Doonan
 
Mengucap syukurlah dengan penuh kasih atas semua kasih karunia Tuhan yang berlimpah.

 
ODB Indonesia
P.O.Box 2500
Jakarta 11025

Tidak ada komentar: