Minggu, 19 Juli 2009

SUPARMAN BUKAN SUPERMAN


SUPARMAN BUKAN SUPERMAN

Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (2 Korintus 12:10)

Seringkali kudengar banyak sekali orang yang membuat standar kekristenan menjadi suatu hal yang berada di awang-awang. Ketika seorang ibu berbagi mengenai permasalahan rumahtangganya, ada seorang yang memberi masukan ,”pasti karena kurang doa”, yang lain berkata “karena tidak pernah puasa”, yang seorang berkata “mungkin karena ada kutuk dalam keluarga”, yang lain lagi berkata “ini karena belum ada mezbah keluarga” dan seterusnya dan seterusnya. Alhasil bukan ibu itu dikuatkan untuk menghadapi permasalahannya, ia malah tambah berbeban dan bingung. Sebab ia merasa tak sanggup untuk melakukan itu semua.
Banyak kali kita merasa tertekan sebagai orang Kristen, karena dituntut untuk sempurna. Memang Tuhan menghendaki kita hidup dalam kekudusan dan mentaati Firman Tuhan. Namun kita tak akan mencapai kesempurnaan dalam hidup bila mengandalkan kekuatan kita. Kita bukan Superman yang memiliki kekuatan hebat. Kita hanyalah Suparman (manusia biasa), kita tidak mampu namun Kristus dalam kita akan memampukan kita untuk hidup dalam kebenaranNya.
Kita akan dimampukan oleh Roh Kudus yang ada dalam diri kita untuk setiap saat bersekutu dengan Bapa dan melakukan apa yang Bapa kehendaki untuk kita kerjakan di muka bumi ini.
Kita perlu menyadari hidup kekristenan bukan masalah melakukan ritual agamawi tetapi masalah hubungan dengan Tuhan. Berdoa itu baik namun Tuhan menghendaki orang yang merindukan Dia, seseorang yang ingin membangun keintiman setiap saat, menyertakan Dia dalam setiap langkah kehidupan.

Doa: Tuhan kini kusadari bahwa aku tak mampu jalan sendiri. Aku butuhkan Engkau dalam setiap langkah hidup ini. Amien.

Firman Tuhan: 2 Korintus 12:9-10

Tidak ada komentar: