Kamis, 14 April 2016

PERJALANAN MELALUI PENDERITAAN

PERJALANAN MELALUI PENDERITAAN

Penderitaan adalah bagian dari menjadi manusia. Hal itu tidak terelakkan. Tergantung pada derajat penderitaan yang dialami, seluruh hidup kita dapat dipengaruhi olehnya. Penderitaan dapat menggerogoti pikiran kita, memengaruhi hubungan kita -- bahkan hubungan kita dengan Allah -- dan tidak ada bagian dari kehidupan kita yang tidak tersentuh. Melihat seseorang menderita juga merupakan hal yang sulit. Sebagai konselor, saya ingin meringankan rasa sakit emosional dengan cepat; namun, bantuan yang cepat mungkin bukan cara penyembuhan yang terbaik.

Hanya Pandangan Dunia

Mereka yang memiliki hubungan dengan Kristus biasanya berpaling kepada-Nya selama masa kesusahan. Ketika penderitaan terus ada dan pertolongan tidak juga terlihat, penderitaan dapat menjadi hal yang membingungkan. Asumsi umum di antara orang-orang percaya adalah bahwa peristiwa menyakitkan dan traumatis tidak terjadi pada orang benar. Keyakinan ini, yang dikenal sebagai Pandangan Keadilan Dunia, mengacu pada pemahaman yang diyakini orang-orang bahwa dunia adalah tempat yang adil (Fetchenhauer et. Al., 2005). Idenya memungkinkan orang untuk melihat Allah sebagai Pribadi yang dapat diprediksi. Selanjutnya, anggota gereja sering menafsirkan peristiwa dengan cara yang mendukung keyakinan bahwa orang yang menderita memiliki sesuatu untuk dipelajari atau bahwa keberadaan iman yang lebih akan meringankan penderitaan. Ayat-ayat seperti Yohanes 10:10 sering dikutip untuk mendukung gagasan bahwa Tuhan melindungi orang-orang yang beriman dan menjauhkan perlindungan-Nya dari mereka yang tidak (beriman).

Kehidupan yang berlimpah, bagaimanapun, tidak menjanjikan hidup tanpa kesedihan atau kesulitan. Rasul Petrus menulis, "sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan" (1 Petrus 1:6). Petrus dengan jelas menyatakan bahwa orang Kristen tidak terbebas dari rasa sakit dan penderitaan. Menariknya, kata penderitaan menunjukkan bahwa pengalaman ini merupakan bagian yang diharapkan dari kehidupan, sedangkan pencobaan tidak, karena perjuangan internal hanya berasal dari kejahatan yang ditemukan di dunia ini (Schreiner, 2003).

Penderitaan sebagai Evaluasi dari Kesedihan

Dalam merenungkan penyebab penderitaan, Knabb dan rekan-rekannya (2010) mengandaikan bahwa itu adalah hasil dari evaluasi pengalaman yang menyakitkan. Kesedihan dan penderitaan tidaklah identik. Melainkan, penderitaan adalah pengalaman dari proses evaluasi. Namun, memeriksa pengalaman yang menyakitkan, berpotensi untuk menghasilkan rasa kesedihan yang mungkin benar-benar akan menambah dan memperpanjang penderitaan. Pekerjaan evaluasi menuntut sebuah pemahaman yang memungkinkan pengalaman untuk diberi label dan diperiksa -- tugas utama untuk proses konseling.

Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman di awal hingga pertengahan 1900-an, mendukung gagasan penderitaan sebagai proses evaluatif (Knabb et. Al, 2010). Bagi Bonhoeffer, rasa sakit adalah bagian normal dari hidup di dunia yang jatuh dalam dosa dan penderitaan menawarkan kemungkinan yang mengarahkan seseorang menuju kepada pemahaman yang lebih dalam mengenai karakter Allah, dan dengan demikian hubungan yang lebih intim dengan-Nya. Oleh karena itu, penderitaan tidak harus dihindari atau buru-buru dihilangkan (Latini, 2009).

Penderitaan sebagai Kedukaan Rohani

Bagi Snyder (2008), penderitaan dapat dilihat sebagai kedukaan rohani. Selama masa penderitaan, kita sering dipaksa untuk bergumul dengan pemahaman kita tentang Allah. Pertanyaan seperti, "Di mana Allah dahulu?" dan "Di mana Allah sekarang?" biasanya diajukan. Orang yang menderita sering mengalami perasaan ditinggalkan secara rohani. Masalahnya lebih daripada sakit yang intens; hal itu merupakan salah satu dari perasaan kehilangan, termasuk kehilangan seseorang yang dicintai serta Allah yang adil, dan karenanya menjadi sebuah seruan kerinduan akan Tuhan. Penderitaan, kemudian, adalah perasaan kuat ditinggalkan oleh Tuhan "yang tampaknya tertidur di perahu dan perlu dibangunkan untuk bertindak" (Markus 4:35-41) (Snyder, 2008, hal. 71). Mudah-mudahan, yang terjadi sesudahnya adalah sebuah percakapan yang jujur dengan Allah yang melibatkan pertanyaan mendalam dan ekspresi emosi yang intens.

Kedukaan rohani, karena itu, merupakan sebuah perjalanan dan proses penyembuhan rohani. Memutuskan untuk percaya pada kebaikan Tuhan, bahkan saat bergumul, akhirnya akan mengarah pada pujian kepada-Nya. Secara kognitif, kita dapat menyadari bahwa proses ini merupakan bagian dari pertumbuhan rohani, tetapi di saat kita sangat membutuhkan, kita mungkin mengalami kecemasan yang intens ketika kita tidak dapat menemukan keintiman dengan Tuhan.

Allah sebagai Teman yang Sama-Sama Menderita

Moltmann, mantan Nazi yang menjadi Kristen di sebuah kamp penjara Skotlandia, mendapati bahwa pertanyaan mengenai Allah yang penuh kasih yang mengizinkan penderitaan adalah kebingungan yang mengganggu gereja Kristen. Dalam mengatasi kesulitan ini, ia menegaskan bahwa Alkitab menunjukkan Allah yang sangat dipengaruhi oleh rasa sakit kita (Monroe & Schwab, 2009). Benar, banyak ayat di seluruh Alkitab memberikan pemahaman yang jelas bahwa Allah penuh kasih terhadap orang yang menderita. Peristiwa Yesus menangis atas kematian Lazarus adalah contoh utama bahwa Allah berduka bersama dengan kita (Yoh. 11:35).

Dalam mempelajari Filipi 3, Hoffman (2010) mencatat bahwa pengakuan akan penderitaan Allah sendiri adalah sangat penting. Pada intinya, penderitaan merupakan "Anak yang kehilangan Bapa-Nya demi kita, dan Bapa yang kehilangan Anak-Nya yang tunggal demi kita, adalah Allah yang sama yang sekarang berempati dengan menangis untuk anak-anak-Nya yang tengah menderita di bumi" (Hoffman, 2010, p. 131). Meskipun gagasan bahwa Tuhan menderita bersama-sama dengan kita mungkin merupakan hal yang baru bagi konseli, pengetahuan akan hal ini akan membantu mengembangkan hubungan yang lebih intim dengan Tuhan.

Menyesuaikan Asumsi Inti

Kadang-kadang, mereka yang mencari nasihat adalah mereka yang sedang berduka atas Allah mereka yang hilang. Meskipun perasaan ditinggalkan itu begitu nyata, Allah sebenarnya tidak hilang. Klien hanya memiliki konsep tentang Allah yang tidak tepat. Proses penderitaan menciptakan situasi yang memungkinkan individu untuk mengenal Allah lebih intim dan untuk memperbaiki asumsi yang salah tentang sifat-Nya.

Bagi Snyder (2008), "Menemui Allah dapat diselimuti dalam kesedihan, tetapi hal itu menjadi transformatif ketika kotak menyesakkan yang telah menutup Allah dan diri kita yang paling jujur akan pecah seperti buli-buli pualam Maria ... Iman tidak lagi berakar dalam doa yang dijawab, dan kebahagiaan tidak tergantung pada keadaan" (hal. 75). Oleh karena itu, seseorang tidak harus menginginkan atau berharap akan luput dari mengalami penderitaan (Hoffman, 2010). Meskipun orang yang menderita mungkin memohon "Bapa, jika mungkin, biarlah cawan ini berlalu," peran kita sebagai konselor Kristen adalah untuk membantu klien bertahan dalam prosesnya (Lukas 22:42).

Kesimpulan

Setelah kematian istrinya, C.S. Lewis menulis, "Kesedihan, bagaimanapun, ternyata bukan sebuah keadaan, tetapi sebuah proses" (Lewis, 1961, hal. 66). Bagi Floyd (2008), konselor yang memahami bahwa kesedihan adalah bagian penting dari kehidupan akan lebih mampu menasihati orang-orang yang menderita. Ketika kita memberikan "penghiburan dan dukungan di tengah-tengah masa sulit ... kita benar-benar ikut 'berkabung dengan orang yang berdukacita' dan menjalankan fungsi yang sangat penting dalam tubuh Kristus" (hal. 95). Oleh karena itu, dibandingkan melihat penderitaan sebagai sesuatu yang harus cepat-cepat diperbaiki, kita dapat berpartisipasi dalam proses penyembuhan yang kudus saat orang yang menderita menjadi lebih intim mengenal Allah. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs: Society for Christian Psychology
Alamat URL: http://www.christianpsych.org/wp_scp/a-journey-through-suffering/
Judul asli artikel: A Journey Through Suffering
Penulis artikel: Shannon Wolf
Tanggal akses: 19 Oktober 2015

Tidak ada komentar: