Kamis, 24 April 2008

MATI "AKU"NYA

MATI “AKU”-NYA

1.   Kalau engkau dilupakan atau diabaikan orang atau kalau dengan sengaja orang
menyia-nyiakan engkau atau pun engkau diremehkan, namun engkau tidak sakit hati dan
tidak tersinggung walaupun engkau tidak diperhatikan; kebalikannya kalau hatimu
bergembira karena engkau dianggap layak untuk boleh menderita bagi Kristus, ITULAH
KEPANDAIAN UNTUK MEMBIARKAN “AKU” – NYA MATI.

2.   Jikalau kebaikanmu dibicarakan seakan-akan merupakan kejahatan, kalau
perbuatanmu yang baik difitnahkan, kalau keinginanmu ditentang, dan kalau apa yang
kau rindukan dihalangi orang, kalau pendapat dan nasehatmu tidak dituruti dan dianggap
tidak penting, kalau pikiran dan usulmu diolok-olokkan; namun engkau tidak membiarkan
rasa amarah timbul dalam hatimu, bahkan engkau tidak membela diri, tetapi kalau
semuanya itu engkau terima dengan penuh kesabaran, penuh pengasihan, dan berdiam
diri saja; ITULAH MATI “AKU” – NYA.

3.   Jikalau engkau tahu menahan dengan penuh pengasihan dan kesabaran terhadap
keadaan manapun yang kurang teratur atau kurang tertib atau pun waktu ada yang
teledor dan terlambat dan kurang teliti, atau orang menjalankan hal yang dapat
menjengkelkan; kalau engkau tetap bersabar bila orang yang di dekatmu menyia-nyiakan
waktu dan tenaga atau menjalankan hal-hal yang tidak pada tempatnya dan yang
keterlaluan; pun kalau sikap orang sangat tumpul terhadap hidup rohani dan sangat
kurang peka terhadap dorongan Rahmat Tuhan; jikalau engkau dapat menyabarkannya
sama seperti Yesus sendiri telah menyabarkannya ITULAH MATI “AKU” – NYA.

4.   Kalau engkau terima baik macam makanan manapun, dan tidak bersungut mengenai
kecilnya pemberian orang, dan mau terima baik corak pakaian apapun dan keadaan cuaca
manapun dan lingkungan manapun dan kesepian manapun, dan engkau tetap sabar kalau
oleh kehendak Tuhan pekerjaanmu diputus-putuskan; ITULAH KEPANDAIAN UNTUK
MEMBIARKAN “AKU” – NYA MATI.

5.   Kalau dalam pembicaraanmu tidak pernah engkau berusaha untuk tonjolkan dirimu
sendiri atau mengalihkan perhatian orang kepada dirimu, dan kalau tidak pernah kau catat
perbuatanmu sendiri yang baik, dan kalau engkau tidak ingin dipuji, dan engkau sungguh
senang kalau dirimu tidak dikenal; ITULAH KEPANDAIAN UNTUK MATI “AKU” – NYA.

6.   Waktu engkau melihat saudaramu mengalami kemujuran, dan segala keperluan dia
dipenuhi, lalu kalau di situ dengan tulus ikhlas engkau dapat bersukacita bersama dan
sehati dengan dia, dan engkau tidak merasa iri dan tidak berbantah dengan Tuhan
tentang mengapa orang lain sudah ditolong sedangkan barangkali kebutuhanmu sendiri
jauh lebih besar dan mendesak dan keadaanmu sendiri sudah hampir dapat membuat
engkau putus asa; ITULAH KEPANDAIAN UNTUK MATI “AKU” – NYA.

7.   Kalau engkau tahu terima baik teguran dan hardikan dari seorang yang lebih muda
atau yang kedudukannya dianggap lebih rendah daripada dirimu, dan kalau disitu dengan
rendah hati engkau dapat menyerahkan dan takluk pada kenyataan dalam hatimu
maupun dalam ucapanmu tanpa pemberontakan dan rasa dendam dalam hatimu;
“ITULAH KEPANDAIAN UNTUK MATI “AKU” – NYA.


Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah.
Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang
hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku ....
Galatia 2:19-20a

Tidak ada komentar: