Rabu, 20 Agustus 2008

HADIAH YANG TERLUPAKAN


HADIAH YANG TERLUPAKAN

Aku mencela engkau karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula (Why 2:1-7)

Saat kuberulangtahun yang ke enam, oma menghadiahkan seekor anak anjing jantan. Aku sangat senang sekali sebab anak anjing itu lucu dan berbulu lebat, seekor anak anjing yang kudambakan selama ini. Setiap hari sepulang sekolah, aku pasti bermain-main dengannya, kami bermain lempar bola atau berjalan-jalan mengitari lingkungan rumah. Saat-saat yang tak terpisahkan bahkan saat merasa jengkel di sekolah atau di rumah, anjing itu pun jadi tempat curhat. Anjing itu menjadi segalanya bagiku. Sampai kubertumbuh besar menjadi seorang remaja. Aku mulai acuh terhadap anjingku, kini teman-teman sekolah menjadi segala-galanya. Teman sepermainan menjadi lebih menarik bagiku daripada main dengan seekor anjing. Meski aku acuh padanya, namun tiap kali kupulang ke rumah, ia selalu menyambutku dengan antusias. Kadang aku menyambutnya, kadang aku malah mengacuhkan dan menganggap sebagai gangguan. Sampai suatu hari kupulang ke rumah, rasanya ada sesuatu yang berbeda dan aneh. Kubertanya pada diriku sendiri, ada apa ya? Lalu kutersadar, mana anjingku, mengapa ia tidak datang menyambutku? Kupanggil-panggil namanya, namun ia tak kunjung datang. Malah mama yang datang dan ia berkata,”Nak, anjingmu sudah mati tadi siang. Kami sudah kuburkan di halaman belakang.” Hatiku sedih, aku telah kehilangan sahabat baikku. Baru kutersadar selama beberapa tahun belakangan ini sering kali mengacuhkan kehadirannya. Aku menyesal telah melakukan hal tersebut padanya.
Begitu pula dalam kehidupan rohani kita. Saat kita baru mengalami “lahir baru”, kita jatuh cinta pada Tuhan. Sangat mudah bagi kita untuk berdoa, membaca Alkitab dan mengikuti ibadah di gereja. Kita begitu “on fire”(berapi-api), seolah tidak ada suatu apapun di muka bumi ini yang dapat menghalangi kita. Namun dengan berlalunya waktu sebagai orang percaya, kasih kita pada Tuhan mulai “grow cold” (menjadi dingin). Tanpa kita sadari perlahan namun pasti kita mulai lebih mengasihi diri kita sendiri dan perkara dunia. Cinta pada Tuhan mulai pudar dari dalam diri kita. Kita mulai hambar dengan perkara-perkara rohani dan mulai mencintai dunia.
Bagaimana kasihmu pada Tuhan saat ini? Bila mulai padam, jangan tunda kembali segera padaNya. Lihat mataNya yang penuh kerinduan padamu…..Ia berkata,”Datanglah padaKU sebab Aku sangat merindukanmu.”

Doa: Bapa, ini aku anakMU, ampuni dan pulihkan kasihku terhdapaMU. Amien

FT: Why 2:1-7

2 komentar:

Riris Ernaeni mengatakan...

Nice article. mengingatkan saya untuk menilai kembali Kasih saya kepada BAPA. GBU

Dave Broos mengatakan...

Praise God bila apa yang saya tulis dapat jadi berkat bagimu. Keep growing in the Lord