Senin, 14 Januari 2008

TANGAN TUHAN YANG TERBUKA



TANGAN TUHAN YANG TERBUKA
Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku. Mazmur 27:10
Suatu hari seorang wanita setengah baya memasuki gedung gereja untuk mengikuti ibadah. Hal yang cukup mengherankan adalah mengapa tidak ada orang yang mau duduk berdekatan dengannya. Itulah pertanyaan yang memenuhi hati saya. Wanita tersebut tidak berani menatap sekelilingnya, ia hanya menundukkan pandangannya ke bawah. Saat saya datang menghampiri dan menyapa, ia sangat terkejut. Ia terheran oleh sapaan saya yang hangat menyambut kedatangannya dalam ibadah di gereja tersebut. Saat ibadah dimulai, sejak awal ibadah sampai akhirnya, ia menangis karena mengalami Kristus dalam hidupnya. Akhir ibadah ia mengucapkan terimakasih atas sambutan saya, sebab sebelum datang ke gereja ia sudah bergumul hebat dalam bathinnya karena ada perasaan tidak layak. Setelah ia tiba di gereja, ia tambah bergumul sebab atmosfir penolakan dari beberapa orang jemaat yang mengetahui profesinya di lingkungan sekitar, sebagai…..seorang pelacur.
Pada peristiwa lain seorang siswa sekolah yang telah lahir baru & tidak diizinkan beribadah karena orangtuanya berbeda keyakinan. Jadi setiap minggu ia izin berolahraga namun setelah pergi lari pagi, ia pasti menyempatkan diri datang ke gereja untuk ikut beribadah. Dengan tubuh yang berpeluh dibalut t-shirt, celana training dan sepatu kets, ia ikut beribadah sebab ia sangat merindukan Kristus yang telah menjadi Tuhan dan Juruselamatnya. Pandangan sinis beberapa jemaat yang penuh tanya memandangi anak muda ini. Seorang anak muda yang rela berbuat apa saja asalkan ia dapat bertemu dengan Tuhan Yesus. Ia mengalami penolakan karena mengenakan pakaian olahraga, yang tidak pantas menurut beberapa orang tanpa mau tahu latar belakang penyebabnya.
Ada istilah dalam bahasa Inggris, “Don’t judge a book by the cover” atau jangan menilai sebuah buku dari sampul luarnya. Dalam Alkitab, Tuhan berbicara pada Nabi Samuel, ”manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Sam 16:7b).
Manusia lebih mudah menilai seseorang dari status, pekerjaan, penampilan dan hal-hal lahiriah lainnya. Banyak orang terganggu bila datang seseorang dengan penampilan yang “berbeda” dan berharap orang itu minggu depan tidak pernah muncul lagi. Gereja yang seharusnya merefleksikan kasih Yesus pada dunia, kini lebih menyerupai klub eksklusif yang memberi persyaratan berat bagi mereka yang hendak bergabung di dalamnya.
Saya bersyukur bahwa meskipun kita ditolak oleh manusia karena status, pekerjaan, pakaian atau hal lainnya. Namun Tuhan menyambut kita apa adanya, siapapun diri kita…Ia mengasihi kita tanpa syarat…Kasih AGAPE. Saatnya kita berubah untuk memiliki dan meneladani kasih Kristus. Menyambut semua orang yang merindukan Tuhan dan menyalurkan kasihNya pada mereka yang tertolak dan hidup dalam dosa.
Kita semua tadinya tidak layak dihadapan Tuhan namun karena kasihNyalah kita telah dilayakkan dan diterima. Sudah sepantasnya kita juga menerima mereka yang hendak datang pada Tuhan siapapun dia, apapun kondisinya. Mari kita sambut kedatangan mereka sebagaimana Kristus membuka tanganNya untuk mencurahkan kasih dan penerimaan bagi mereka yang tersesat dan terhilang.

Tidak ada komentar: